Sebuah pengakuan dari seorang HAMBA:
Ilahi lastu lilfirdausi ahlan, walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi
Fahabli taubatan waghfir dzunubi, fainnaka ghafirudz- dzanbil ‘adzimi….
Ya Allah… tidak layak aku masuk ke dalam surga-Mu
tetapi hamba tiada kuat menerima siksa neraka-Mu
Maka terimalah taubatku dan ampuni dosaku
sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa ….
Dzunubi mitslu a’daadir- rimaali, fahabli taubatan ya Dzal Jalaali,
Wa ‘umri naqishu fi kulli yaumi, wa dzanbi zaaidun kaifah -timali
Dosaku banyak bagaikan butir pasir di pantai,
maka terimalah taubatku, wahai Yang Memiliki Keagungan
Dan umurku berkurang setiap hari,
sementara dosaku selalu bertambah, apa dayaku?
Ilahi ‘abdukal ‘aashi ataaka, muqirran bi dzunubi wa qad du’aaka
fain taghfir fa anta lidzaka ahlun, wa in tadrud faman narju siwaaka
Ya Allah… hamba-Mu penuh maksyiat, datang kepada-Mu bersimpuh memohon ampunan,
Jika Engkau ampuni memang Engkau adalah Pemilik Ampunan,
Tetapi jika Engkau tolak maka kepada siapa lagi aku berharap ?
diambil dari: http://cepia.blogspot.com/2005/05/itiraf.html
Filed under: Uncategorized





Askm…
Waduh tema tulisan bu Cici kebetulan sama dengan tulisan yang pernah ada pada buku saya. dan kebetulan baru saya aploud di blog saya untuk sekedar mengingatkan sesama.
http://oediku.wordpress.com/2009/04/16/sebuah-pengakuan-2/
Dan benar sekali bu, menjiwai ungkapan tersebut diatas saya secara tidak sadar meneteskan airmata. apalagi ketika seiring dengan lantunan syahdu lagi dari Haddad Alwi…
Ya Rohman, ampuni hamba yang hina ini…
Ya Rohim, perkenankanlah aku…
Apabila kita menyaksikan dan merasakan adanya pengampunan , pemaafan, yang bersifat kasih dan sayang, baik dalam diri maupun di luar diri, maka hendaknya diiktikadkan dengan sungguh-sungguh dalam hati bahwasanya tidak ada Zat yang Maha Pengampun (al-ghafur), yang Maha Pemaaf (al-’Afuww) melainkan Zat Allah Swt.
Janganlah kita berprasangka tidak baik kepadaNya dalam menyikapi apa pun agar kita selamat dari kesyirikan khafi(tersembunyi) terhadap af’al-Nya. semoga kita selalu dalam perlinduganNya.
” Ilahi lastu lilfirdausi ahlan, walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi ”
” Ya Allah… tidak layak aku masuk ke dalam surga-Mu
tetapi hamba tiada kuat menerima siksa neraka-Mu ”
sebatas yg saya ketahui, syair ini tidak benar (bathil), apa sebab?
sebab, Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam saja berdo’a : ” ya Allah, masukkanlah aku ke dalam SyurgaMu dan jauhilah aku dari Api nerakaMu” ditambah lagi beliau juga bersabda : ” jika memohon do’a, maka mintalah Syurga Firdaus”
…dari kedua dalil di atas, menunjukkan kita sebagai kaum muslimin adalah LAYAK untuk masuk ke dalam syurga (bukannya tidak layak) MESKIPUN kebanyakannya harus MAMPIR dulu ke Neraka…
memang ini terdengar sepele, bahkan sebagian mengatakan “Jangan di anggap serius, ini kan cuma syair…” , …. Syair memang tidak ada larangannya, tapi jika menyalahi syari’at maka ini tidaklah benar dan harus kembalikan kepada Dalil (seperti 2 dalil di atas), karena awalnya pemikiran-pemikiran sesat adalah dari sesuatu yang kecil terlebih dahulu, baru kemudian membesar dan membesar sehingga mengganggap agama ini kurang sempurna dan menambahkan / memodifikasi agama (bid’ah), maka kita dituntunkan untuk berhati-hati terlebih dalam perkaran Ad-Diinus Islam.
Maaf jika argumen sy kurang berkenan, tapi setidaknya itulah yang saya dapati dari Ustadz Abu Zubeir Al Hawary ketika saya mendengar kajian yang beliau sampaikan…
silahkan jika ada yg ingin menanggapi.
Jazakalloh…