Cicie Kusumadewi

Home » 2008 » May

Monthly Archives: May 2008

Katakan dengan Bunga

Dua tahun sudah peristiwa itu terjadi. Ya, gempa hebat yang mengguncang Yogja, 27 Mei 2006 lalu cukup menyisakan duka yang dalam, tak terkecuali aku. Rumah yang aku tinggali 1 tahun sebelum peristiwa itu pun tak luput dari efek gempa, meskipun tidak terlalu parah. Semenjak peristiwa itu, hampir 2 tahun lamanya aku jarang sekali menginjakkan kakiku di balkon lantai-2 rumahku.

Setelah 2 tahun lamanya, saat ini aku telah memulai menata kembali balkon itu. Setelah selesai dengan mengecat ulang dan memperbaiki bagian plafon yang rusak diterjang gempa, balkon itu kelihatan lebih manis dan bersih. Langkah terakhir, tentunya adalah menghiasinya dengan aneka tanaman. Kali ini, tanaman yang aku pilih adalah Euphorbia. Tanaman yang sangat suka dengan terik matahari ini memang sangat cocok ditempatkan di balkon itu. Disamping memang tempat itu sangat panas, juga bunganya yang beraneka warna itu sangat membuat hidup ini menjadi lebih bersemangat. Tercatat sebanyak 17 pot euphorbia berjajar manis disana, mulai dari bunga warna merah terang, merah muda, kuning cerah, kuning gading, merah bata, putih, dll. Beberapa bunga dibeli dari taman anggrek, ada juga yang hasil biakan sendiri, lainnya adalah pemberian tetangga (terimakasih tetangga-tetanggaku yang baek…)

Aku Mau

Cukup melelahkan hari ini. Alhamdulillah semua Tugas yang diberikan institusi padaku telah aku selesaikan. Bahagia itu pasti, namun rasa sedih juga ada, aku merasa belum melakukan banyak hal buat institusiku. Sembari melepas lelah, aku dengarkan lagu “Aku Mau” yang dinyanyikan Once Dewa. Lagu ini spesial buat institusiku tercinta:

Aku Mau – Once

Kau boleh acuhkan diriku
Dan anggap ku tak ada
Tapi takkan merubah perasaanku
Kepadamu

Kuyakin pasti suatu saat
Semua kan terjadi
Kau kan mencintaiku
Dan tak akan pernah melepasku

Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Selalu bersedia bahagiakanmu
Apapun terjadi
Kujanjikan aku ada

Kau boleh jauhi diriku
Namun kupercaya
Kau kan mencintaiku
Dan tak akan pernah melepasku

Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Aku yang rela terluka
Untuk masa lalu

Terimakasih ALLAH, Engkau telah berikan aku kesehatan hari ini….

Taman Anggrek

Anggrekku20 Mei 2008, akhir tanggal merah. Pilihan saya kali ini adalah jalan-jalan ke Taman Anggrek. Tempat ini tidak terlalu jauh dari rumahku. Seperti biasa, penjaga taman yang sudah cukup hafal dengan diriku mulai menegur: “Mau nambah koleksi apalagi mbak?“ Meskipin bernama Taman Anggrek, namun koleksi tempat ini sangat beragam, mulai tanaman desa dengan harga terjangkau, sampai tanaman yang berharga jutaan. Karena lokasinya di desa, taman ini memang tidak terkesan mewah, namun pengunjung cukup betah karena lokasinya yang sangat asri dan alami. Menempati lokasi yang cukup luas, dulunya taman anggrek ini hanya sebagai tempat untuk menanam anggrek potong untuk dijual ke kios-kios bunga, namun sekarang usahanya sudah berkembang menjadi nursery besar.

Sebenarnya niat awal saya adalah membeli euphorbia warna merah tua dan kuning. Tanaman ini sangat cocok untuk menyambut musim panas. Euphorbia pot kecil dijual dengan harga Rp 20 ribu, pot sedang seharga Rp 45 ribu. Namun seperti biasa, saya selalu tergoda dengan tanaman lain jika berada di tempat ini….. Kali ini mata saya tergoda dengan aggrek bulan lokal berwarna putih semburat ungu, aggrek bulan lokal putih dengan banyak cabang, dan anggrek bulan thailand ungu berbintik. Setelah mengamati helai daun untuk memastikan kesehatan tanaman, akhirnya tiga jenis anggrek tersebut resmi saya ambil dengan terlebih dahulu dirangkai oleh sang penjual tanaman ke dalam sebuah pot dari tembikar. Meskipun merogoh kocek cukup banyak, sayapun merasa sangat puas dengan ciptaan Illahi yang bernama anggrek ini….


Libur memang menyenangkan

Tanggal merah, itulah dambakan sebagian besar insan tanah air, tak terkecuali saya. Apalagi tanggal merah kali ini tidak cuma satu, namun dua, jika ditambah dengan libur sambu minggu, jadilah empat hari libur. Alhamdulillah…. Beberapa rencana telah tersusun untuk menyambut harkitnas lengkap dengan harpitnasnya. Seperti biasa, acara jalan-jalan yang saya pilih untuk mengisi hari libur adalah pergi ke nursery, toko buku, atau kios majalah. Buku-buku psikologi, kesehatan, dan pengetahuan agama Islam selalu menjadi pilihan favorit apabila saya berkunjung ke toko buku. Tanaman anggrek dalam berbagai spesies menjadi pilihan ketika berkunjung ke nursery. Liburan kali ini, pilihan saya hanya pergi ke kios majalah, yang jelas tidak terlalu jauh dari rumah. Sang empunya kios sudah sangat hafal dengan kehadiran saya, termasuk majalah dan tabloid jenis apa yang bakalan saya pilih. Beliapun langsung menyiapkan beberapa majalah dengan tema kesehatan, pertanian, interior & eksterior rumah, serta tabloid kuliner. Hmm… cukup banyak. Anggaran untuk membeli buku, majalah atau tabloid memang menduduki peringkat 4 besar pengeluaran saya dalam tiap bulannya. Saya memang merasa butuh untuk membaca buku-buku dan majalah tersebut selepas isya’ hingga menjelang istirahat malam.

Meskipun sang pemilik kios sudah sangat hafal dengan saya, namun kelihatannya beliau belum tahu apa profesi saya. Dengan rasa ingin tahu, akhirnya beliau menanyakan: “Mbak, kerjanya di bidang kesehatan ya?” Ups… aku cuma sedikit senyum, sambil bilang “tidak”. Masih dengan nada penasaran, beliau tanya lagi: “Di bidang pertanian?” Waduh….salah lagi. Selanjutnya saya yang giliran menantang: “Coba tebak lagi…. apa hayo?” Dalam hati saya menerka, beliau pasti akan menebak: “Kuliner atau Arsitek”. Ternyata tidak… Beliau menyerah pasrah…. Kemudian, aku menjawab singkat: “Informatika”. Kelihatannya raut wajah beliau menyiratkan ketidakpercayaan. Saya yakin beliau pasti mengira kalo saya bohong. Selanjutnya beliau balas bertanya: “Kok orang informatika malah tidak pernah cari bacaan yang berbau teknologi informasi?” Bingung juga aku menjawabnya. Padahal di kios itu, banyak sekali dijual majalah IT. Jangankan membeli, menyentuhpun tidak. Dengan sedikit diplomatis akhirnya jawabanpun meluncur: ”Kalo masalah IT lebih mudah saya dapatkan via internet….”. Ini memang jawaban betul tapi sebenarnya bukan alasan utama mengapa saya enggan mencari (membeli) majalah ato tabloid yang berbau IT……

Nostalgia

Sepertinya minggu-minggu belakangan ini adalah mingu-minggu yang cukup membahagiakan, dan berbeda bagiku. Alhamdulillah, aku bertemu dengan beberapa kawan lama, baik secara offline maupun online. Mereka adalah mantan mahasiswa saya yang dulu sering membantu aktivitas akademik saya; dua orang kawan dekat ketika masih kuliah S1; dan seorang teman ketika masih duduk di bangku SD.

Pertama, seorang mantan mahasiswa, sekarang telah menjadi seorang dosen juga. Dia seorang laki-laki yang dulu sempat saya angkat menjadi asisten Sistem Cerdas untuk aktivitas laboratorium dan workshop. Selain itu, dia pun sempat mendukung berbagai aktivitas jurusan ketika saya masih menjabat sebagai sekretaris dan ketua di jurusan tersebut. Kala itu, dengan bantuannya, jurusan ini mendapatkan akreditasi untuk yang pertama kalinya. Dia sekarang akan kuliah lagi (S2) di Yogyakarta. Tentunya aku senantiasa mendoakan demi kesuksesannya. Seperti biasa, pertemuan di kantor tersebut diwarnai dengan cerita masa lalu. Banyak hal yang dulunya terasa menyebalkan, ternyata sekarang terlihat membawa hikmah yang sungguh luar biasa. Dia-pun menceritakan kawan-kawannya yang sekarang sudah cukup banyak menjadi orang yang sukses di negeri ini. Seperti layaknya orang tua lain, akupun sungguh bangga dan bahagia mendengarnya.

Kedua, seorang kawan lama ketika kuliah S1 dulu. Kami telah berkenalan dan berhubungan baik sekitar 19 tahun yang lalu (waktu yang cukup lama). Kepindahannya ke lain kota membuat kami berpisah selama 18 tahun. Tiga tahun lalu, kami sempat betemu meskipun hanya skitar 15 menit, itupun karena dia ada tugas ke Yogyakarta. Meskipun kami hanya berbincang lewat sebuah forum online, namun banyak ide-ide segar yang berhasil kami diskusikan. Kami pun saling bertukar informasi tentang kabar kawan-kawan lama yang sekarang juga telah menjadi orang-orang sukses di negeri ini.

Ketiga, seorang kawan ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Secara kebetulan dia datang ke kantor karena terlibat proyek bersama dengan salah seorang kawan. Ternya dia masih begitu ingat dengan sosok saya. “Engkau sama sekali tidak berubah…”. Itulah kalimat pertama yang dia lontarkan kepadaku. Sudah 25 tahun kami tidak bertemu. Selepas SD, dia harus mengikuti orang tuanya untuk hijrah ke Yogya. “Kamu sekarang lebih banyak bicara, dibanding dulu yang cukup pendiam…. Selebihnya sama saja”. Begitu imbuhnya.

Ah… pertemuan dengan mereka semakin menyadarkan aku bahwa hidupku di dunia ini sudah cukup lama, dan rona-rona kehidupan pernah aku alami bersama dengan mereka…. Sukses selalu buat kawan-kawan lama.

Rasa syukur yang tulus

Ketika berita tentang akan dinaikkannya harga BBM, membuat gejolak yang luar biasa di kalangan masyarakat. Tidak terkecuali di kampungku. Kampung yang rata-rata setiap keluarga berpenghasilan menengah ke bawah tersebut semakin dipusingkan dengan kemungkinan melonjaknya harga barang-barang sebagai dampak dari naiknya harga BBM. Meskipun sebagian dari mereka tidak memiliki kendaraan bermotor, namun imbas kenaikan harga barang sudah tentu sangat berpengaruh bagi mereka. Tentunya beban hidup yang semakin sulit ini akan sangat membahayakan syeitan untuk membisikkan kebusukan-kebusukan agar menjauhkan kita dari rasa syukur terhadap nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah SWT. Dalam kondisi normalpun, terkadang kita sering terlena untuk tidak mengucapkan (apalagi menghayati) arti syukur. Ucapan syukur hanya terlontar sebagai ucapan, tanpa ada pemaknaan secara tulus ikhlas.

Ada beberapa cara untuk dapat mengungkapkan rasa syukur dengan tulus (Nirmala, Mei 2008), antara lain:

  • Setiap hari tulislah hal-hal yang membuat Anda merasa bersyukur. Misal: diberi kesehatan, tidak antre BBM, lulus ujian, ada teman yang baik hati memberikan makanan, dll.
  • Lakukan segala sesuatu dengan tulus, misalnya membantu suami/istri/anak/teman/tetangga/murid dengan senang hati, bukannya malah marah-marah atau memberi nasehat yang menyakitkan hati.
  • Ucapkan terimakasih kepada orang yang telah membantu atau memperlancar kerja Anda (walaupun Anda tidak mengenalnya). Gerak tubuh Anda mensiratkan perasaan Anda, apakah anda tulus atau sekedar basa-basi saja.
  • Nikmati & syukuri jika kebetulan Anda sedang berada di suatu tempat yang indah atau dalam komunitas yang menyenangkan. Misalkan: sedang berada di pegunungan dengan pemandangan & hawa yang sejuk, berada pada lingkungan kerja yang kondusif dan saling mendukung.
  • Dalam setiap situasi, baik maupun buruk, tanyalah pada diri Anda: “Apakah hikmahnya bagiku?” Jangan berburuk sangka kepada Allah SWT.

Alhamdulillah, hari ini aku diberi kesempatan untuk menulis blog….