Cicie Kusumadewi

Home » 2008 » August

Monthly Archives: August 2008

KHADIJAH: The True Love Story of Muhammad

Bermula dari sebuah taklim ibu-ibi di kampungku, seorang ustadzah sekilas menceritakan tentang Ibu Khadijah (istri Rasulullah SAW). Entah mengapa pada minggu-minggu terakhir ini aku juga merasa ingin mengenal lebih dalam tentang sosok Khadijah. Selama ini aku hanya mengenal sosok Khadijah dalam 3 karakter, yaitu: sebagai istri nabi Muhammad yang pertama; wanita pedagang yang cerdas dan kaya raya; serta menikah dengan usia yang jauh lebih tua dibanding dengan Muhammad. Tiga karakter yang memang “sangat sulit” bisa terjadi pada diri seorang wanita.

Hari itu, Sabtu 16 Agustus aku sempatkan mendatangi toko buku untuk mencari judul-judul buku tentang Khadijah. Ada beberapa pilihan, dan ternyata ada satu buku yang aku rasa paling cantik. Buku itu berjudul “Khadijah: The True Love Story of Muhammad”. Buku cantik bersampul putih dengan aksen merah muda ini cukup menggelitik. Berlabel “100% untuk wanita”, dengan tebal 363 halaman, karangan Abdul Mun’im Muhammad yang kemudian diterjemahkan oleh Ghozi M. Meskipun buku ini terjemahan, namun saya sama sekali tidak menemukan frasa kalimat yang tidak sambung (sulit dimengerti); tidak seperti kebanyakan buku terjemahan yang terkadang cukup sulit dimaknai. Butuh waktu sehari penuh untuk membaca buku tebal ini.

Secara garis besar buku ini terbagi dalam 3 bagian. Bagian pertama bercerita tentang pertemuan antara Khadijah dan Muhammad yang kemudian menjadi suaminya. Kedua, mengisahkan perjuangan Muhammad dalam syiar Islam, tentunya dengan dukungan Khadijah. Ketiga, keistimewaan Khadijah dan cerita sekitas tentang keturunan-keturunannya. Bagian pertama dan ketiga sebenarnya merupakan inti dari hebatnya Khadijah.

Bab 1 diawali dengan kekaguman Khadijah terhadap Muhammad. Menurut saya, pada badian ini sungguh sangat romantis. Kisah yang terkesan tidak dibuat-buat tentang seorang wanita yang mencintai laki-laki. Beberapa penggal kisah tersebut adalah:

“Khadijah juga mengamati gambaran fisik Muhammad. Cara ia berjalan menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi. Posturnya seimbang, tidak terlalupendek dan tidak terlalu tinggi, tidak terlalu gemuk dan tidak pula terlalu kurus” [Halaman 9].

”Muhammad memiliki kening yang lebar, dagu yang lepas, dan leher yang jenjang. Dadanya bidang, matanya indah dan lebar dengan bola mata yang hitam pekat. Giginya yang putih cemerlang” [Halaman 10].

Pada bagian ini juga ditunjukkan bagaimana Khadijah merupakan wanita suci yang tidak mudah terpikat dengan laki-laki. Hingga pada akhirnya beliau betul-betul terpikat dengan pribadi Muhammad. Penggalan paragraf berikut menunjukkan hal tersebut:

”Agak mengherankan bahwa Khadijah memperhatikan semua itu. Ketampanan dan kegagahan Muhammad memang mampu memikat banyak orang. Tetapi, bukankah Khadijah memanggilnya untuk urusan bisnis? Tampaknya, Khadijah tertarik dengan pribadi pemuda ini. Alangkah lembutnya keindahan yang terpancar dari wajah Muhammad. Alangkah indahnya senyum tipis yang menghias wajahnya…..” [Halaman 10].

Namun demikian, Khadijah juga sempat tidak PD (percaya diri) ketika akan memutuskan untuk menjadikan Muhammad sebagai suaminya. Khadijah yang sudah sekian lama hidup sendiri dan mandiri secara sosial ekonomi harus meminang seorang pemuda. Bagaimana mungkin seorang wanita menikah dengan pemuda yang berusia 15 tahun lebih muda? [Hmm… tertarik dengan pemuda yang 1 atau 2 tahun lebih muda saja begitu sulit, apalagi ini belasan tahun …]. Penggalan paragraf berikut menunjukkan hal tersebut:

”Akan tetapi, Khadijah juga sempat ragu. Pantaskan ia menikah dengan Muhammad? Selama ini ia yakin bahwa ia harus menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Karena hal itulah ia menolak semua pinangan yang datang. Ia lebih memilih untuk hidup bersama anak-anaknya dan memusatkan perhatiannya dalam bidang perdagangan. Apa kata pemuka Quraisy jika mendengar Khadijah meminang seorang pemuda untuk dirinya sendiri?” [Halaman 15].

”Khadijah adalah wanita yang kaya, cantik, dan berstatus sosial tinggi. Ia masih memiliki pesona bagi banyak laki-laki. Di sisi lain, Muhammad bukanlah lelaki yang rakus dan gampang tergoda oleh hal-hal yang bersifat lahiriah. Tetapi, Khadijah tahu bahwa walau bagaimanapun, Muhammad tetaplah seorang pemuda. Adalah haknya untuk mencintai seorang gadis yang sebaya” [Halaman 16].

Akhirnya dengan bantuan Nafisah untuk melakukan pendekatan awal dengan Muhammad, Khadijah meminang sendiri Muhammad: ”Wahai anak pamanku, aku berhasrat untuk menikah denganmu atas dasar kekerabatan, kedudukanmu yang mulia, akhlakmu yang baik, integritas moralmu, dan kejujuran perkatanmu”.

Pasangan Muhammad dan Khadijah memang fenomenal. Bahkan, Aisyah sebagai istri nabi Muhammad yang paling muda dan cantik, hanya mencemburui Khadijah seorang. Bahkan nabi Muhammad hampir tidak pernah keluar rumah tanpa menyebut dan memuji Khadijah. Aisyah pernah bercerita: ”Aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita sebesar rasa cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Rasulullah sering menyebut dan mengingatnya……. Seperti tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah” [Halaman 314]. Dan Rasulullah pun menjawab: ”…. Demi Allah, aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik daripada Khadijah…..”. Khadijah memang sangat istimewa dimata Rasullullah.

Buku ini memang sangat bagus, dan dapat menjadi alternatif pilihan untuk bingkisan bagi wanita tercinta…..

Emosi Jiwa

Emosi tidak identik dengan amarah. Sejak lahir, manusia telah memiliki emosi dasar, seperti: takut, sedih, bahagia, dll. Tiap-tiap orang memiliki pembawaan emosi atau temperamen yang berbeda-beda. Perbedaan temperamen ini juga telah digambarkan dalam hadis sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai berikut:

Ingatlah sesungguhnya diantara manusia ada yang tidak mudah marah (dan kalau marah) cepat reda (amarahnya). Ada orang yang cepat marah serta cepat reda amarahnya. Ingatlah juga bahwa diantara manusia ada yang cepat marah serta tidak mudah reda amarahnya. Ingatlah, orang yang paling baik adalah orang yang tidak mudah marah serta cepat reda amarahnya. Sementara orang yang paling buruk adalah orang yang cepat marah dan tidak mudah reda amarahnya”. (HR. Ath Thurmudhi).

Perkembangan emosi sesuai umur dapat dibagi dalam beberapa tahap [diambil dari sebuah buku yang lupa judul & penulisnya]:

  1. Anak-anak (umur < 12 tahun): mendemonstrasikan perilaku untuk mengatasi emosinya; berempati dengan orang lain:
  2. Remaja (12 <= umur < 18): mulai melepaskan ikatan emosional dengan orang tuan dan membuka persahabatan dengan teman sebaya; mencari jati diri dan ingin membuktikan eksistensi diri.
  3. Dewasa (18 <= umur < 30): memiliki kebutuhan untuk merasakan keintiman dan melakukan hubungan seksual; berjuang untuk mendapatkan cinta & penghargaan; mulai belajar untuk mandiri baik dari segi penghasilan maupun tanggungjawab.
  4. Dewasa (30 <= umur < 40): memfokuskan diri untuk meningkatkan karir dan meraih kestabilan dalam kehidupan pribadi; lebih bisa mengontrol emosi, memahami sesuatu, realistik dan objektif.
  5. Tua (40 <= umur < 60): mengalami krisis usia pertengahan; mengalami kebosanan dengan kehidupan, pekerjaan, dan pasangan hidup.
  6. Lanjut usia (umur > 60): bagi orang yang mampu mengevaluasi diri akan menjadi lebih bijaksana, dapat menghargai keterbatasan dan nilai-nilai kemanusiaan; sebaliknya, bagi yang merasa gagal di usia muda akan merasakan perasaan tidak berharga dan putus asa.

Namun demikian, perkembangan jiwa tersebut bukanlah merupakan harga mutlak. Lingkungan dan perkembangan teknologi merupakan faktor eksternal yang sangat mempengaruhi perkembangan jiwa.

Selain harus cerdas dalam mengelola emosi diri sendiri, kita juga diwajibkan untuk menjaga emosi orang lain. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan cara:

  1. Tidak membicarakan kelemahannya atau hal-hal yang tidak diinginkannya.
  2. Memperhatikan setiap pembicaraannya.
  3. Menggunakan bahasa tubuh yang tepat.
  4. Tidak mempertahankan pendapatnya dengan cara melawan pembicaraan.
  5. Apabila ingin memberikan pujian, berikan pujian yang bersifat memotivasi, bukan pujian yang berpotensi membanggakan diri.
  6. Apabila ingin memberikan nasehat, berikan di waktu & tempat yang tepat dengan cara yang tepat pula. ”Siapa memberi nasehat saudaranya saat di muka saudara lainnya, berarti ia telah memalukannya; Siapa memberi nasehat saudaranya tatkala mereka sendirian, maka benar-benar ia telah memperbaikinya”.