Cicie Kusumadewi

Home » 2008 » December

Monthly Archives: December 2008

Tahun Baru Hijriyah

Tak terasa 1429H berlalu sudah. Alhamdulillah, satu tahun itu aku lalui dengan sangat bahagia. Banyak pengalaman baru, ilmu baru, dan mestinya banyak juga kawan baru. Tentunya pengalaman tersebut menjadikan pola pikir dalam mensikapi hidup ini menjadi sedikit berubah.

Seperti biasa, setiap akhir tahun hijriyah, masjid di kampungku (masjid Al Ikhlas) selalu mengadakan kegiatan. Untuk tutup tahun kali ini, dipilih “Wisata Religi” untuk kegiatan tersebut. Hari Minggu 28 Desember, kami jamaah masjid Al Ikhlas mengunjungi Pondok Pesantren Al Islami di Kalibawang Kulon Progo. Kami satu rombongan terdiri-dari bapak2, ibu2, para remaja, anak2 TPA dan balita berjumlah sekitar 80 orang. Pondok Pesantren Al Islami merupakan pondok khusus rehabilitasi pengguna narkoba. Sejauh mata memandang, pesantren ini tak jauh beda dengan pesantren lainnya. Namun lokasinya yang cukup pelosok, membuat suasana pesantren menjadi begitu tenang. Setiap hari minggu memang ada pengajian yang digelar di pesantren ini. Minggu itu, tidak seperti biasanya, pengajian diisi oleh ”Asisten Kyai”. Konon Bapak Kyai sedang kurang enak badan. Hmm… Diluar dugaan, ternyata Sang Asisten Kyai (yang ternyata adalah putra ketiga Bapak Kyai) adalah seorang Dokter Jiwa [jadi teringat saat2 kuliah dulu…ehm…]. Makanya beliau begitu gamblang dalam memberikan tausiah. Ada dua masukan bagus yang sempat aku catat dari beliau:

  1. Agar hidup kita penuh semangat dalam menghadapi satu tahun kedepan, maka kita perlu menetapkan agenda kegiatan satu tahun beserta target pencapaiannya. Aku sepakat banget dengan prinsip ini. Bahkan biasanya di awal tahun hijriyah aku selalu menetapkan satu target besar dalam hidup, dan Alhamdulillah target ini selalu tercapai. Sayangnya, tidak seperti biasa untuk tahun 1430H ini aku belum punya target apapun….(????)
  2. Dalam mensikapi hidup, dapat diterapkan konsep ”90-10”; artinya 90% adalah perbuatan kita dan 10% adalah takdir. Hmm..Betul juga, sepakat. Meskipun cuma 10%, takdir memang sangat menentukan. Namun demikian, Allah maha adil, kita diberi bekal ilmu dan akal untuk mengupayakan 90% sisanya.

Alhamdulillah, hari ini dapat ilmu baru lagi. InsyaAllah bisa jadi bekal untuk hidup yang lebih baik. Dalam perjalanan akhir, rombongan kami menyempatkan untuk singgah di pantai Trisik. Sempat ada permainan untuk anak2 TPA disana, sejumlah doorprize dibagikan [lagi2 “Anda Belum Beruntung”], yah… sekedar refreshing.

Smoga di tahun 1430H nanti smakin banyak kebaikan dalam hidup kami. Amin…

Pendadaran yang Mengasyikkan

Seminggu ini aku berkesempatan untuk menguji Tugas Akhir 2 mahasiswa yang bukan dari Jurusan Teknik Informatika. Seorang mahasiswa S2 Fakultas Kedokteran UGM (saya sebagai pembimbing), dan seorang lagi mahasiswa S2 Magister Teknik Industri UII (saya hanya sebagai penguji). Ujian pendadaran kali ini berbeda dengan ujian2 TA yang selama ini sering saya ikuti. Ujian berjalan begitu khikmat, khusyuk, santai, terkadang diselingi humor ringan, tapi cukup bermakna (baik bagi kami tim penguji maupun bagi yang sedang duduk di ‘kursi panas’). Mengasyikkan dan membawa banyak manfaat, begitulah kesan yang terekam dalam ingatan saya. Nada bicara tim penguji yang cukup terkendali ternyata berdampak pada mahasiswa. Mereka lebih bisa mengeksplorasikan segala kemampuaannya dan meminimalisir rasa grogi. Kami sebagai tim penguji juga menjadi nyaman ketika mendengar penjelasan dari mahasiswa maupun masukan dari penguji lain. Ya… kami justru malah seperti berdiskusi hangat seputar tema penelitian, jauh dari kesan suasana peradilan antara hakim dan tersangka (lho…!!!). Sayapun juga banyak “mencuri” ilmu dari penguji lain dan pengetahuan dari mahasiswa yang selama ini belum ada dalam basis pengetahuan saya. Sebaliknya, mereka pun bisa menerima masukan saya dengan pikiran yang relatif jernih.

Aku memang telah lama merindukan suasana pendadaran yang seperti ini: nyaman, saling mengisi, fokus dengan tema, dan saling menghargai pendapat. Menurutku, ujian pendadaran juga merupakan salah satu ajang “menuntut ilmu” bagi kita semua (mahasiswa & penguji). Tak ada manusia yang lebih sempurna di antara yang lainnya…. Terimakasih ya Robbi, Engkau telah beri aku penyegaran & pencerahan yang sebenarnya dalam proses pembelajaran hidup … Alhamdulillah.