Cicie Kusumadewi

Home » 2009 » February

Monthly Archives: February 2009

Benarkah bahwa Kasih Sayang gak dapat dibagi????

Sebut saja Melati, seorang putri manis berusia 4 tahun, tiba-tiba suka ngambek, rewel dan sewot. Melati sering marah-marah pada bunda tercintanya, bahkan untuk masalah yang tidak jelas. Sebelumnya sifat seperti ini jarang sekali ditunjukkan. Usut punya usut, ternyata Melati sedang cemburu dengan calon adik bayi yang tengah dikandung oleh Bunda. Melati sangat takut, manakala Si Adik lahir, Bunda tidak lagi sayang padanya. Bunda pasti akan lebih sayang sama Adik daripada dengan Melati. Adik kan masih kecil, barusan lahir, gak seperti Melati. Kata orang, cemburu berarti cinta. Namun bisa jadi, cemburu berarti khawatir jika apa yang menjadi haknya akan tereliminasi, ato tidak diberikan seutuhnya. Melati benar2 cemburu pada Adik, tentunya karena Sang Adik memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh Melati. Adik adalah sesuatu yang baru. Umumnya sesuatu yang baru akan lebih disayang daripada yang telah usang.

Bagaimana sikap Bunda menghadapi hal ini? Umumnya Bunda akan menganggap hal ini wajar-wajar saja. ”Saya akan tetap sayang seutuhnya kepada kedua anak saya, tak berkurang sedikitpun kasih sayang saya terhadap Melati, meskipun nanti saatnya Si Adik telah lahir di bumi ini, semua akan berjalan seperti adanya”. Hmmm…. benar. Meskipun dalam kenyataannya, jatah dongeng untuk Melati menjadi berkurang karena Bunda harus meninabobokkan Adik. Jatah bercanda Bunda dan Melati juga akan berkurang karena Bunda sibuk menyiapkan makan siang Adik, dll dll dll.

Hmmm… itu hanyalah sebuah contoh kasus dimana sejatinya seseorang memiliki egoisme yang cukup kuat untuk mempertahankan haknya (terutama dalam bentuk KASIH SAYANG). Kasih sayang, sesuatu yang tak terwujud, namun keberadannya mutlak diperlukan oleh semua makhluk hidup. Karena bentuknya yang tidak mawujud, maka umumnya kasih sayang perlu ditunjukkan (dan bilamana bisa diungkapkan). Kasih sayang memberikan semangat ekstra yang bisa mengalahkan kemampuan dan keahlian pribadi. Kasih sayang (KS) mengandung pengertian yang sangat luas. KS Ibu terhadap anaknya, ato sebaliknya. KS suami terhadap istrinya, ato sebaliknya. KS guru terhadap muridnya, ato sebaliknya; dll dll. Masalahnya, apakah kuantitas dan kualitas kasih sayang yang dimiliki oleh setiap individu akan terbagi-bagi manakala muncul objek-objek baru yang membutuhkan kasih sayangnya???? Bisa jadi Bunda Melati memberikan jawaban begini: ”Dalam hati saya kasih sayang ini tidak berkurang sedikitpun. Namun karena waktu Bunda terkuras untuk mengurus Adik, Bunda jadi sedikit mengabaikan Melati”. Hmm… Bukankah kuantitas dan kualitas kasih sayang hanya dapat dilihat dari apa yang ditunjukkan Bunda pada Melati. Karena Melati tidak tahu apa yang ada di hati Bunda. Manusia tak akan pernah tahu apa yang menjadi isi hati orang lain…. Oleh karena itu, sikap dan tingkah laku menjadi tolok ukur penilaian kita terhadap seseorang, bukan apa yang diniatkan.

”Hanya dengan prasangka baik akan membuat hidup ini menjadi nyaman dan terlepas dari rasa cemburu”. [tanpa harus menjawab: apakah benar bahwa kasih sayang dapat dibagi-bagi????].

“Solusi Ideal” dalam hidup

Lama gak nge-blog, jadi pengin nulis2 lagi. Tiba-tiba teringat dengan suatu pepatah yang mencerminkan “penyakit hati” manusia: rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Terkadang manusia memang lepas kontrol dari rasa syukur sehingga apapun yang dialami sepertinya jauh lebih buruk dibandingkan dengan yang dialami oleh orang lain. Yang lebih parah lagi, terkadang seseorang merasa bahwa Tuhan tidak lagi sayang padanya, bahkan melupakannya. Jika hal ini terjadi, seseorang terkadang akan menjadi sangat putus asa, merasa tidak berguna, paling tidak beruntung di dunia, dll dll dll; yang jelas senantiasa berprasangka buruk kepada Tuhan.

Di sisi lain, ada juga manusia yang begitu ikhlas, sabar, dan hidupnya dipenuhi dengan rasa syukur. Pernah suatu saat aku jalan2 ke suatu daerah di lereng pegunungan. Aku lihat ibu2 menggendong rerumputandan berjalan cukup jauh. Aku yaking sang Ibu tak punya kendaraan bermotor, HP, laptop, mobil, apalagi jutaan rupiah dalam tabungan. Tapi begitu jelas dalam wajah ibu, sebuah keikhlasan dan ketulusan hidup. Aku yakin sekali bahwa Si Ibu memiliki usia yang jauh lebih tua daripada raut wajahnya. Tubuhnya masih kelihatan sehat. Senyumnya begitu ramah dan tulus, meskipun Si Ibu sama sekali tidak mengenalku.

13lawu1

Suatu saat ketika aku berjalan dari gedung FTI ke gedung Rektorat (skitar 200 m), seorang petugas parkir berujar: “Mbak, saya itu kasihan sama njenengan, kok kemana-mana selalu berjalan kaki, mbok utusan saja untuk mengantar”. Sempat tercengang dengan perkataan itu. Apakah berjalan kaki merupakan salah satu wujud penderitaan???? Justru bagiku, momen2 jalan kaki kayak gini yang paling aku cari. Disamping bikin badan tambah seger, juga bisa menyapa kawan2 yang ktemu di jalan.
Ah… ini hanya cerita intermezo saja. Kalo mau dibuat simpulan kira2 kayak gini:
a. Manusia memang tidak lepas dari banyak kekurangan dan beberapa kelebihan. Akan lebih baek jika sang manusia mengerti apa yang menjadi kekurangan dan kelebihannya. Terkadang dalam hati kita tersenyum kecil ketika orang memuji kita (ah… orang2 itu tidak tahu kekuranganku, makanya mereka memujiku).
b. Hidup ini akan terasa indah apabila kita bisa menemukan “solusi ideal” dalam hidup ini. Apa itu Solusi Ideal? Menurut dosen Sistem Pendukung Keputusan Informatika UII, solusi ideal dalam hidup adalah “Memanfaatkan kekurangan kita untuk Memaksimalkan kelebihan kita“… (bijaksana sekali, hahahaha……)