Cicie Kusumadewi

Start here

Pendadaran yang Mengasyikkan

Seminggu ini aku berkesempatan untuk menguji Tugas Akhir 2 mahasiswa yang bukan dari Jurusan Teknik Informatika. Seorang mahasiswa S2 Fakultas Kedokteran UGM (saya sebagai pembimbing), dan seorang lagi mahasiswa S2 Magister Teknik Industri UII (saya hanya sebagai penguji). Ujian pendadaran kali ini berbeda dengan ujian2 TA yang selama ini sering saya ikuti. Ujian berjalan begitu khikmat, khusyuk, santai, terkadang diselingi humor ringan, tapi cukup bermakna (baik bagi kami tim penguji maupun bagi yang sedang duduk di ‘kursi panas’). Mengasyikkan dan membawa banyak manfaat, begitulah kesan yang terekam dalam ingatan saya. Nada bicara tim penguji yang cukup terkendali ternyata berdampak pada mahasiswa. Mereka lebih bisa mengeksplorasikan segala kemampuaannya dan meminimalisir rasa grogi. Kami sebagai tim penguji juga menjadi nyaman ketika mendengar penjelasan dari mahasiswa maupun masukan dari penguji lain. Ya… kami justru malah seperti berdiskusi hangat seputar tema penelitian, jauh dari kesan suasana peradilan antara hakim dan tersangka (lho…!!!). Sayapun juga banyak “mencuri” ilmu dari penguji lain dan pengetahuan dari mahasiswa yang selama ini belum ada dalam basis pengetahuan saya. Sebaliknya, mereka pun bisa menerima masukan saya dengan pikiran yang relatif jernih.

Aku memang telah lama merindukan suasana pendadaran yang seperti ini: nyaman, saling mengisi, fokus dengan tema, dan saling menghargai pendapat. Menurutku, ujian pendadaran juga merupakan salah satu ajang “menuntut ilmu” bagi kita semua (mahasiswa & penguji). Tak ada manusia yang lebih sempurna di antara yang lainnya…. Terimakasih ya Robbi, Engkau telah beri aku penyegaran & pencerahan yang sebenarnya dalam proses pembelajaran hidup … Alhamdulillah.

Masih dengan Lawu Resort

Lawu Resort, bumi perkemahan yang tentunya tidak asing bagi saya (dan sebagian besar mahasiswa saya). Minggu, 23 November lalu, kami (aku dan tiga dosen yunior) menyempatkan diri untuk singgah ke sana. Bagiku ini adalah kesempatan yang ke-DELAPAN kali. Setiap tahun mahasiswa mengadakan acara di sini. Mereka memberi judul dengan WEB (Wahana Edukasi dan outBound) [banyak yang bilang, ini singkatan “maksa” banget…!!!!]. Meskipun aku bukan mahasiswa, namun aku termasuk salah satu “penggemar” agenda ini. Alasannya? 1. Refreshing di daerah pegunungan adalah salah satu hobiku (bisa menambah rasa syukur pada Illahi sekaligus menghirup udara segar); 2. Ketemu mahasiswa-mahasiswa “kuno”, banyak kenangan terlukis bersama mereka di masa lalu, suka & duka tentunya [haru biru banget!!!]; 3. Adalah sebuah kebahagiaan, ketika melihat anak-anak (para mahasiswa) berbahagia di saat itu [ibu-ibu banget!!!].

Kesempatan ke Lawu Resort kali ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini aku berkesempatan untuk ikut naik2 ke bukit. Maklum, pengawal yang aku ajak saat itu adalah dosen2 junior yang siap pantang lelah & tulus ikhlas bersama menaiki bukit. Tak lupa, jepret – jepret – jepret beberapa gambar sempat diabadikan. Sejauh mata memandang, daerah sekitar Lawu Resort sangat indah, sungguh indah, subhanallah…. Komplit, mulai hamparan sawah lengkap dengan teraseringnya, bukit hijau, sungai yang mengalir dengan air yang masih cukup jernih, para petani yang berbahagia, dll.

2lawu5lawu

3lawu1lawu

8lawu9lawu

7lawu6lawu

Cerita tentang Lawu Resort tak akan ada habisnya. Keindahan alam di sana adalah salah satu wujud keagungan Yang Kuasa. InsyaALLAH kalo ada umurku panjang, tahun depan Lawu Resort lagi, untuk yang kesembilan kali. Amin….

Kuliah Kerja Nyata alias KKN

Tiba-tiba teringat pada masa itu…. Ya, masa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Meskipun peristiwa itu telah terjadi 15 tahun silam [15 Oktober – 14 Desember 1993], namun spertinya sulit terhapus dari memori ini. Bagi saya, waktu itu KKN adalah ajang untuk refreshing. Bagaimana tidak, KKN baru aku ambil setelah beberapa bulan dinyatakan lulus ujian pendadaran (lho kok bisa ya….????). Kami diterjunkan di sebuah desa terpencil bernama Kalikayen, kecamatan Ungaran, kabupaten Semarang. Waktu itu Kalikayen begitu istimewa. Untuk singgah di desa itu, dibutuhkan cukup perjuangan, seperti harus melewati pematang-pematang sawah dan menyeberang beberapa sungai. Transportasi darat hanya sampai di desa sebelah, untuk selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki (atau naik motor jika ikhlas motornya rusak…). Namun justru di situlah letak kenikmatan KKN, sesuatu yang belum pernah aku alami sebelumnya. KKN banyak memberikan banyak inspirasi padaku. Pengin hidup di desa, melihat warga memasak pake kayu bakar, pagi hari mendengar ayam berkokok, dll. Alhamdulillah, akhirnya sebagian besar inspirasi itu telah menjadi kenyataan. Hidup Kalikayen….!!!!!

kkn1kkn2

kkn3kkn4

kkn51kkn6

Keladi Bersemi Lagi

Dulu aku sempat hobi koleksi aneka keladi. Ada beberapa jenis, dan semua diperoleh secara gratis (Alhamdulillah ada tetangga yang super baek ngasih tanaman2 berdaun indah ini). Namun, seiring berjalannya waktu dan musim, akhirnya keladi2 ini musnah. Turunnya hujan beberapa hari terakhir ternyata membangunkan tanaman2 indah itu. Meskipun posisinya jadi tak menentu, Alhamdulillah cukup menyemarakkan taman kecilku…..

keladi1keladi2

keladi3keladi6keladi5keladi7keladi41

Musim Rambutan

Musim rambutan telah tiba. Seperti layaknya rumah2 di nDeso lainnya, di rumahku juga ada satu pohon rambutan. Meskipun tergolong pohon yang minimalis (karena lahannya yang juga minimalis), pohon rambutan di rumahku juga berpartisipasi untuk berbuah. Kali ini buahnya gak terlalu lebat seperti tahun lalu, namun masih enak untuk dimaem. Karena halaman rumah yang sangat2 sempit, 1/3 dahan pohon terpaksa harus mejenx di jalanan. So…. buah yang diatas jalan ‘halal’ dipanen oleh siapapun [tanpa harus ijin pada pemliknya]. Siapa mau …..?????

rambutan1rambutan2

Yang Baru Yang Bersemangat

Setelah 6 tahun absen dari mengajar mahasiswa baru, akhirnya tahun 2008 ini aku kembali mengajar mahasiswa baru (tentunya angkatan 2008). Satu hal yang pasti terjadi pada mahasiswa baru adalah semangat mengikuti kuliah sebesar 99,999888% terutama pada perkuliahan pertama. Alhamdulillah setelah 4 kali pertemuan, semangat mahasiswa baru 2008 masih menyala-nyala. Bahkan di pertemuan pertama selepas “Pesta Mudik 2008”, semangat itu kian berkobar menjadi 99,999999%. Terus terang aku begitu bangga dengan mereka, jiwa2 muda yang begitu bersemangat.. Hal-hal menarik yang aku coba amati, antara lain:

1. Jamaah perkuliahan selalu dimulai dari shaf paling depan. Tidak seperti biasanya, yang selalu menganggap bahwa shaf tengah-belakang adalah shaf paling afdol.

2. Hobi tertawa [walah…], meskipun demikian tidaklah gaduh [lho…]. Meskipun mereka pada hobi tertawa, namun konsentrasi masih maksimum.

3. Tidak “clometan/nylemong” (tidak berkomentar dengan hal2 yang tidak perlu). Meskipun komentar masih saja ada, namun komentar mereka adalah lucu2 saja… [menyegarkan suasana].

4. Sampe detik ini, belum terdeteksi ada oknum yang “terlelap” di bangku kuliah (meskipun suasana Ramadhan). Mereka berstamina prima, atau mungkin yang hobi terlelap tidak pernah datang kuliah, sebab kuliah dimulai jam 07.00 (kadang molor dikit…).

5. Cerdas-Cermat, Cepat-Tepat, dan Tebak-Tepat. Mereka adalah makhluk2 ciptaan Allah yang cerdas, kritis, dan cepat berpikir ketika diberi pertanyaan…[meskipun terkadang hanya dengan jawaban “pas buk”].

So, begitu indah mengajar mahasiswa 2008. Begitu menyenangkan dan begitu merindukan.

Nasihatku buatmu Naks : “Tetep Sehat, Tetep Semangat, Tetep Berjuang, Raih Masa Depan nan Gemilang….”.

Blog-blog itu….

Ketika SMP & SMA dulu, beberapa kawan sering menulis pengalaman sehari-hari di buku harian. Bagi mereka, buku harian bersifat sangat pribadi, hanya si pemilik buku saja yang boleh membacanya. Meskipun aku tidak pernah melakukan hal yang sama, alias gak pernah menulis buku harian, aku sangat mengagumi teman2 yang bisa melakukan hal tersebut …. sepertinya hidupnya jadi terdokumentasi dengan baek.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi [kalimat standar banget yg paling aku benci… benci… benci…], saat ini buku harian berubah jadi blog. Banyak orang mulai menulis pengalamannya dan pengin dibaca oleh banyak orang. Aku termasuk yang suka membaca blog2 yang ditulis baik oleh rekan kerja maupun para mahasiswa/i. Bagiku, tujuan utama membaca blog adalah ”media hiburan”. Terkadang aku bisa ketawa ketiwi sendiri membaca tulisan2 ajaib yang sekenanya itu (terutama yg ditulis oleh mahasiswa). Aku memang jarang kasih komentar, skedar turut terhibur saja dengan membaca tulisan mereka.

Ada beberapa kategori blog yang bagiku menjadikan ”hiburan segar”, antara lain:

1. Kategori Blog NARSIS, ciri2nya: suka memamerkan kebaikan diri sendiri tanpa tedheng aling2…

2. Kategori Blog HARU-BIRU, ciri2nya: berisi puisi2, sajak2, pantun dll…

3. Kategori Blog BOLANG (BOcah petuaLANG), ciri2nya: menceritakan pengalaman petualangan penulis mulai dari penderitaan sampai kebahagiaan yang diraihnya.

4. Kategori Blog NEKAT, ciri2nya: selalu menulis informasi panjang lebar, hingga di akhir tulisan belum jelas apa yang mau disampaikan.

5. Kategori Blog BINGUNG, ciri2nya: banyak informasi yang disampaikan, bahkan sampai informasi tsb membuat bingung pembacanya…

6. Kategori Blog COPY-PASTE, ciri2nya sangat jelas, hanya mengcopy blog tetangga…

7. Kategori Blog USTADZ, ciri2nya berisi nasehat2 & petuah demi kebahagian hidup dunia akhirat

8. Kategori Blog META-BLOG, ciri2nya memuat banyak alamat2 blog saudara2nya

Namun demikian, ada juga blog2 yang aku ”sedikit enggan” membukanya, antara lain:

1. Kategori Blog EGOIS, ciri2nya: berisi gambar2 yang super guedhe, sehingga untuk membukanya dibutuhkan tingkat kesabaran ekstra.

2. Kategori Blog MALAS, ciri2nya: informasinya gak pernah dimutakhirkan.

——

Yang Istimewa di 01 Oktober 2008

Oleh warga negara Indonesia, tanggal 01 Oktober dikenal sebagai hari kesaktian Pancasila. Konon ceritanya ada pemberontakan yang dilakukan oleh PKI pada tanggal 30 September 1965, sehingga selanjutnya tanggal 01 Oktober diperingati sebagai hari kesaktian Pancasila. Kebenaran cerita itu? Entahlah…. aku belum lahir saat itu.

Hari ini, 43 tahun kemudian, bangsa Indonesia juga sedang bersuka cita. Namun, nampaknya bukan terfokus pada hari Kesaktian Pancasila, melainkan pada hari raya umat Islam (Idhul Fitri 1429H). Alhamdulillah, tahun ini penetapan tgl 1 Syawal 1429H ternyata bisa kompak di tanggal yang sama, 01 Oktober 2008. Tadi malam, gema takbir menghiasi kota kecilku, meskipun aku rasakan gema takbir tahun ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya (bahkan sangat tidak meriah). Barangkali takbiran sekarang sudah dilakukan secara online ya…?! [Maap, bukan menyindir yang malem takbiran pada YM-an]. Biasanya, sampe malam tiba, anak2 masih berkeliling kampung dengan membawa oncor sambil menggemakan takbir. Mushola di kampungku juga sudah tidak lagi mengkoordinir pembagian zakat fitrah. Zakat fitrah mulai diserahkan sendiri2. Pagi tadi, menurut cerita dari keponakan, shalat Id hanya dihadiri oleh segelintir manusia. Akupun berhalangan untuk shalat Id tahun ini. Yang lain pada kemana gerangan? Atau pada tidak mudik? Mungkin berlebaran via SMS ato via YM sudah dirasa cukup. Perjalanan mudikku di H-2, Alhamdulillah lancar2 saja. Jalanan yang biasanya penuh, entah mengapa di H-2 begitu lengang, sehingga perjalanan berjalan cukup singkat (hanya 5,5 jam dari yang seharusnya 7 jam)

Satu hal lagi yang sangat istimewa di 01 Oktober 2008 ini adalah genap 14 tahun aku mengabdikan diri sebagai dosen di Teknik Informatika UII. Ya… usia yang sama persis dengan usia institusiku itu. ”Selamat Ulang Tahun Teknik Informatika UII ke-14”. Semoga dengan bertambahnya usia, semakin bertambah pula kemanfaatan jurusan ini dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, amin…. Memang tidak terasa sudah 14 tahun aku mengabdikan diri di jurusan ini, tanpa pernah ijin studi, apalagi cuti. Tentunya banyak suka duka aku alami. Kalo mau ditimbang2, ternyata lebih banyak sukanya ketimbang dukanya. Sebagian besar duka acap kali mendatangkan suka. Rekan2 kerja yang kompak dan baik2 (meskipun terkadang pada pengin maunya sendiri…), dan mahasiswa-mahasiswi yang lugu2 & lucu2 (meskipun kadang ada yang menjengkelkan….). Alhamdulillah sampai saat mahasiswa bimbingan tugas akhir yang telah lulus sebanyak 239 orang (mulai angkatan 1994 – 2004), banyak… Semoga kalian menjadi orang yang berguna Nak….

KHADIJAH: The True Love Story of Muhammad

Bermula dari sebuah taklim ibu-ibi di kampungku, seorang ustadzah sekilas menceritakan tentang Ibu Khadijah (istri Rasulullah SAW). Entah mengapa pada minggu-minggu terakhir ini aku juga merasa ingin mengenal lebih dalam tentang sosok Khadijah. Selama ini aku hanya mengenal sosok Khadijah dalam 3 karakter, yaitu: sebagai istri nabi Muhammad yang pertama; wanita pedagang yang cerdas dan kaya raya; serta menikah dengan usia yang jauh lebih tua dibanding dengan Muhammad. Tiga karakter yang memang “sangat sulit” bisa terjadi pada diri seorang wanita.

Hari itu, Sabtu 16 Agustus aku sempatkan mendatangi toko buku untuk mencari judul-judul buku tentang Khadijah. Ada beberapa pilihan, dan ternyata ada satu buku yang aku rasa paling cantik. Buku itu berjudul “Khadijah: The True Love Story of Muhammad”. Buku cantik bersampul putih dengan aksen merah muda ini cukup menggelitik. Berlabel “100% untuk wanita”, dengan tebal 363 halaman, karangan Abdul Mun’im Muhammad yang kemudian diterjemahkan oleh Ghozi M. Meskipun buku ini terjemahan, namun saya sama sekali tidak menemukan frasa kalimat yang tidak sambung (sulit dimengerti); tidak seperti kebanyakan buku terjemahan yang terkadang cukup sulit dimaknai. Butuh waktu sehari penuh untuk membaca buku tebal ini.

Secara garis besar buku ini terbagi dalam 3 bagian. Bagian pertama bercerita tentang pertemuan antara Khadijah dan Muhammad yang kemudian menjadi suaminya. Kedua, mengisahkan perjuangan Muhammad dalam syiar Islam, tentunya dengan dukungan Khadijah. Ketiga, keistimewaan Khadijah dan cerita sekitas tentang keturunan-keturunannya. Bagian pertama dan ketiga sebenarnya merupakan inti dari hebatnya Khadijah.

Bab 1 diawali dengan kekaguman Khadijah terhadap Muhammad. Menurut saya, pada badian ini sungguh sangat romantis. Kisah yang terkesan tidak dibuat-buat tentang seorang wanita yang mencintai laki-laki. Beberapa penggal kisah tersebut adalah:

“Khadijah juga mengamati gambaran fisik Muhammad. Cara ia berjalan menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi. Posturnya seimbang, tidak terlalupendek dan tidak terlalu tinggi, tidak terlalu gemuk dan tidak pula terlalu kurus” [Halaman 9].

”Muhammad memiliki kening yang lebar, dagu yang lepas, dan leher yang jenjang. Dadanya bidang, matanya indah dan lebar dengan bola mata yang hitam pekat. Giginya yang putih cemerlang” [Halaman 10].

Pada bagian ini juga ditunjukkan bagaimana Khadijah merupakan wanita suci yang tidak mudah terpikat dengan laki-laki. Hingga pada akhirnya beliau betul-betul terpikat dengan pribadi Muhammad. Penggalan paragraf berikut menunjukkan hal tersebut:

”Agak mengherankan bahwa Khadijah memperhatikan semua itu. Ketampanan dan kegagahan Muhammad memang mampu memikat banyak orang. Tetapi, bukankah Khadijah memanggilnya untuk urusan bisnis? Tampaknya, Khadijah tertarik dengan pribadi pemuda ini. Alangkah lembutnya keindahan yang terpancar dari wajah Muhammad. Alangkah indahnya senyum tipis yang menghias wajahnya…..” [Halaman 10].

Namun demikian, Khadijah juga sempat tidak PD (percaya diri) ketika akan memutuskan untuk menjadikan Muhammad sebagai suaminya. Khadijah yang sudah sekian lama hidup sendiri dan mandiri secara sosial ekonomi harus meminang seorang pemuda. Bagaimana mungkin seorang wanita menikah dengan pemuda yang berusia 15 tahun lebih muda? [Hmm… tertarik dengan pemuda yang 1 atau 2 tahun lebih muda saja begitu sulit, apalagi ini belasan tahun …]. Penggalan paragraf berikut menunjukkan hal tersebut:

”Akan tetapi, Khadijah juga sempat ragu. Pantaskan ia menikah dengan Muhammad? Selama ini ia yakin bahwa ia harus menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Karena hal itulah ia menolak semua pinangan yang datang. Ia lebih memilih untuk hidup bersama anak-anaknya dan memusatkan perhatiannya dalam bidang perdagangan. Apa kata pemuka Quraisy jika mendengar Khadijah meminang seorang pemuda untuk dirinya sendiri?” [Halaman 15].

”Khadijah adalah wanita yang kaya, cantik, dan berstatus sosial tinggi. Ia masih memiliki pesona bagi banyak laki-laki. Di sisi lain, Muhammad bukanlah lelaki yang rakus dan gampang tergoda oleh hal-hal yang bersifat lahiriah. Tetapi, Khadijah tahu bahwa walau bagaimanapun, Muhammad tetaplah seorang pemuda. Adalah haknya untuk mencintai seorang gadis yang sebaya” [Halaman 16].

Akhirnya dengan bantuan Nafisah untuk melakukan pendekatan awal dengan Muhammad, Khadijah meminang sendiri Muhammad: ”Wahai anak pamanku, aku berhasrat untuk menikah denganmu atas dasar kekerabatan, kedudukanmu yang mulia, akhlakmu yang baik, integritas moralmu, dan kejujuran perkatanmu”.

Pasangan Muhammad dan Khadijah memang fenomenal. Bahkan, Aisyah sebagai istri nabi Muhammad yang paling muda dan cantik, hanya mencemburui Khadijah seorang. Bahkan nabi Muhammad hampir tidak pernah keluar rumah tanpa menyebut dan memuji Khadijah. Aisyah pernah bercerita: ”Aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita sebesar rasa cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Rasulullah sering menyebut dan mengingatnya……. Seperti tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah” [Halaman 314]. Dan Rasulullah pun menjawab: ”…. Demi Allah, aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik daripada Khadijah…..”. Khadijah memang sangat istimewa dimata Rasullullah.

Buku ini memang sangat bagus, dan dapat menjadi alternatif pilihan untuk bingkisan bagi wanita tercinta…..

Emosi Jiwa

Emosi tidak identik dengan amarah. Sejak lahir, manusia telah memiliki emosi dasar, seperti: takut, sedih, bahagia, dll. Tiap-tiap orang memiliki pembawaan emosi atau temperamen yang berbeda-beda. Perbedaan temperamen ini juga telah digambarkan dalam hadis sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai berikut:

Ingatlah sesungguhnya diantara manusia ada yang tidak mudah marah (dan kalau marah) cepat reda (amarahnya). Ada orang yang cepat marah serta cepat reda amarahnya. Ingatlah juga bahwa diantara manusia ada yang cepat marah serta tidak mudah reda amarahnya. Ingatlah, orang yang paling baik adalah orang yang tidak mudah marah serta cepat reda amarahnya. Sementara orang yang paling buruk adalah orang yang cepat marah dan tidak mudah reda amarahnya”. (HR. Ath Thurmudhi).

Perkembangan emosi sesuai umur dapat dibagi dalam beberapa tahap [diambil dari sebuah buku yang lupa judul & penulisnya]:

  1. Anak-anak (umur < 12 tahun): mendemonstrasikan perilaku untuk mengatasi emosinya; berempati dengan orang lain:
  2. Remaja (12 <= umur < 18): mulai melepaskan ikatan emosional dengan orang tuan dan membuka persahabatan dengan teman sebaya; mencari jati diri dan ingin membuktikan eksistensi diri.
  3. Dewasa (18 <= umur < 30): memiliki kebutuhan untuk merasakan keintiman dan melakukan hubungan seksual; berjuang untuk mendapatkan cinta & penghargaan; mulai belajar untuk mandiri baik dari segi penghasilan maupun tanggungjawab.
  4. Dewasa (30 <= umur < 40): memfokuskan diri untuk meningkatkan karir dan meraih kestabilan dalam kehidupan pribadi; lebih bisa mengontrol emosi, memahami sesuatu, realistik dan objektif.
  5. Tua (40 <= umur < 60): mengalami krisis usia pertengahan; mengalami kebosanan dengan kehidupan, pekerjaan, dan pasangan hidup.
  6. Lanjut usia (umur > 60): bagi orang yang mampu mengevaluasi diri akan menjadi lebih bijaksana, dapat menghargai keterbatasan dan nilai-nilai kemanusiaan; sebaliknya, bagi yang merasa gagal di usia muda akan merasakan perasaan tidak berharga dan putus asa.

Namun demikian, perkembangan jiwa tersebut bukanlah merupakan harga mutlak. Lingkungan dan perkembangan teknologi merupakan faktor eksternal yang sangat mempengaruhi perkembangan jiwa.

Selain harus cerdas dalam mengelola emosi diri sendiri, kita juga diwajibkan untuk menjaga emosi orang lain. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan cara:

  1. Tidak membicarakan kelemahannya atau hal-hal yang tidak diinginkannya.
  2. Memperhatikan setiap pembicaraannya.
  3. Menggunakan bahasa tubuh yang tepat.
  4. Tidak mempertahankan pendapatnya dengan cara melawan pembicaraan.
  5. Apabila ingin memberikan pujian, berikan pujian yang bersifat memotivasi, bukan pujian yang berpotensi membanggakan diri.
  6. Apabila ingin memberikan nasehat, berikan di waktu & tempat yang tepat dengan cara yang tepat pula. ”Siapa memberi nasehat saudaranya saat di muka saudara lainnya, berarti ia telah memalukannya; Siapa memberi nasehat saudaranya tatkala mereka sendirian, maka benar-benar ia telah memperbaikinya”.