Cicie Kusumadewi

Start here

Benarkah bahwa Kasih Sayang gak dapat dibagi????

Sebut saja Melati, seorang putri manis berusia 4 tahun, tiba-tiba suka ngambek, rewel dan sewot. Melati sering marah-marah pada bunda tercintanya, bahkan untuk masalah yang tidak jelas. Sebelumnya sifat seperti ini jarang sekali ditunjukkan. Usut punya usut, ternyata Melati sedang cemburu dengan calon adik bayi yang tengah dikandung oleh Bunda. Melati sangat takut, manakala Si Adik lahir, Bunda tidak lagi sayang padanya. Bunda pasti akan lebih sayang sama Adik daripada dengan Melati. Adik kan masih kecil, barusan lahir, gak seperti Melati. Kata orang, cemburu berarti cinta. Namun bisa jadi, cemburu berarti khawatir jika apa yang menjadi haknya akan tereliminasi, ato tidak diberikan seutuhnya. Melati benar2 cemburu pada Adik, tentunya karena Sang Adik memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh Melati. Adik adalah sesuatu yang baru. Umumnya sesuatu yang baru akan lebih disayang daripada yang telah usang.

Bagaimana sikap Bunda menghadapi hal ini? Umumnya Bunda akan menganggap hal ini wajar-wajar saja. ”Saya akan tetap sayang seutuhnya kepada kedua anak saya, tak berkurang sedikitpun kasih sayang saya terhadap Melati, meskipun nanti saatnya Si Adik telah lahir di bumi ini, semua akan berjalan seperti adanya”. Hmmm…. benar. Meskipun dalam kenyataannya, jatah dongeng untuk Melati menjadi berkurang karena Bunda harus meninabobokkan Adik. Jatah bercanda Bunda dan Melati juga akan berkurang karena Bunda sibuk menyiapkan makan siang Adik, dll dll dll.

Hmmm… itu hanyalah sebuah contoh kasus dimana sejatinya seseorang memiliki egoisme yang cukup kuat untuk mempertahankan haknya (terutama dalam bentuk KASIH SAYANG). Kasih sayang, sesuatu yang tak terwujud, namun keberadannya mutlak diperlukan oleh semua makhluk hidup. Karena bentuknya yang tidak mawujud, maka umumnya kasih sayang perlu ditunjukkan (dan bilamana bisa diungkapkan). Kasih sayang memberikan semangat ekstra yang bisa mengalahkan kemampuan dan keahlian pribadi. Kasih sayang (KS) mengandung pengertian yang sangat luas. KS Ibu terhadap anaknya, ato sebaliknya. KS suami terhadap istrinya, ato sebaliknya. KS guru terhadap muridnya, ato sebaliknya; dll dll. Masalahnya, apakah kuantitas dan kualitas kasih sayang yang dimiliki oleh setiap individu akan terbagi-bagi manakala muncul objek-objek baru yang membutuhkan kasih sayangnya???? Bisa jadi Bunda Melati memberikan jawaban begini: ”Dalam hati saya kasih sayang ini tidak berkurang sedikitpun. Namun karena waktu Bunda terkuras untuk mengurus Adik, Bunda jadi sedikit mengabaikan Melati”. Hmm… Bukankah kuantitas dan kualitas kasih sayang hanya dapat dilihat dari apa yang ditunjukkan Bunda pada Melati. Karena Melati tidak tahu apa yang ada di hati Bunda. Manusia tak akan pernah tahu apa yang menjadi isi hati orang lain…. Oleh karena itu, sikap dan tingkah laku menjadi tolok ukur penilaian kita terhadap seseorang, bukan apa yang diniatkan.

”Hanya dengan prasangka baik akan membuat hidup ini menjadi nyaman dan terlepas dari rasa cemburu”. [tanpa harus menjawab: apakah benar bahwa kasih sayang dapat dibagi-bagi????].

“Solusi Ideal” dalam hidup

Lama gak nge-blog, jadi pengin nulis2 lagi. Tiba-tiba teringat dengan suatu pepatah yang mencerminkan “penyakit hati” manusia: rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Terkadang manusia memang lepas kontrol dari rasa syukur sehingga apapun yang dialami sepertinya jauh lebih buruk dibandingkan dengan yang dialami oleh orang lain. Yang lebih parah lagi, terkadang seseorang merasa bahwa Tuhan tidak lagi sayang padanya, bahkan melupakannya. Jika hal ini terjadi, seseorang terkadang akan menjadi sangat putus asa, merasa tidak berguna, paling tidak beruntung di dunia, dll dll dll; yang jelas senantiasa berprasangka buruk kepada Tuhan.

Di sisi lain, ada juga manusia yang begitu ikhlas, sabar, dan hidupnya dipenuhi dengan rasa syukur. Pernah suatu saat aku jalan2 ke suatu daerah di lereng pegunungan. Aku lihat ibu2 menggendong rerumputandan berjalan cukup jauh. Aku yaking sang Ibu tak punya kendaraan bermotor, HP, laptop, mobil, apalagi jutaan rupiah dalam tabungan. Tapi begitu jelas dalam wajah ibu, sebuah keikhlasan dan ketulusan hidup. Aku yakin sekali bahwa Si Ibu memiliki usia yang jauh lebih tua daripada raut wajahnya. Tubuhnya masih kelihatan sehat. Senyumnya begitu ramah dan tulus, meskipun Si Ibu sama sekali tidak mengenalku.

13lawu1

Suatu saat ketika aku berjalan dari gedung FTI ke gedung Rektorat (skitar 200 m), seorang petugas parkir berujar: “Mbak, saya itu kasihan sama njenengan, kok kemana-mana selalu berjalan kaki, mbok utusan saja untuk mengantar”. Sempat tercengang dengan perkataan itu. Apakah berjalan kaki merupakan salah satu wujud penderitaan???? Justru bagiku, momen2 jalan kaki kayak gini yang paling aku cari. Disamping bikin badan tambah seger, juga bisa menyapa kawan2 yang ktemu di jalan.
Ah… ini hanya cerita intermezo saja. Kalo mau dibuat simpulan kira2 kayak gini:
a. Manusia memang tidak lepas dari banyak kekurangan dan beberapa kelebihan. Akan lebih baek jika sang manusia mengerti apa yang menjadi kekurangan dan kelebihannya. Terkadang dalam hati kita tersenyum kecil ketika orang memuji kita (ah… orang2 itu tidak tahu kekuranganku, makanya mereka memujiku).
b. Hidup ini akan terasa indah apabila kita bisa menemukan “solusi ideal” dalam hidup ini. Apa itu Solusi Ideal? Menurut dosen Sistem Pendukung Keputusan Informatika UII, solusi ideal dalam hidup adalah “Memanfaatkan kekurangan kita untuk Memaksimalkan kelebihan kita“… (bijaksana sekali, hahahaha……)

Tahun Baru Hijriyah

Tak terasa 1429H berlalu sudah. Alhamdulillah, satu tahun itu aku lalui dengan sangat bahagia. Banyak pengalaman baru, ilmu baru, dan mestinya banyak juga kawan baru. Tentunya pengalaman tersebut menjadikan pola pikir dalam mensikapi hidup ini menjadi sedikit berubah.

Seperti biasa, setiap akhir tahun hijriyah, masjid di kampungku (masjid Al Ikhlas) selalu mengadakan kegiatan. Untuk tutup tahun kali ini, dipilih “Wisata Religi” untuk kegiatan tersebut. Hari Minggu 28 Desember, kami jamaah masjid Al Ikhlas mengunjungi Pondok Pesantren Al Islami di Kalibawang Kulon Progo. Kami satu rombongan terdiri-dari bapak2, ibu2, para remaja, anak2 TPA dan balita berjumlah sekitar 80 orang. Pondok Pesantren Al Islami merupakan pondok khusus rehabilitasi pengguna narkoba. Sejauh mata memandang, pesantren ini tak jauh beda dengan pesantren lainnya. Namun lokasinya yang cukup pelosok, membuat suasana pesantren menjadi begitu tenang. Setiap hari minggu memang ada pengajian yang digelar di pesantren ini. Minggu itu, tidak seperti biasanya, pengajian diisi oleh ”Asisten Kyai”. Konon Bapak Kyai sedang kurang enak badan. Hmm… Diluar dugaan, ternyata Sang Asisten Kyai (yang ternyata adalah putra ketiga Bapak Kyai) adalah seorang Dokter Jiwa [jadi teringat saat2 kuliah dulu…ehm…]. Makanya beliau begitu gamblang dalam memberikan tausiah. Ada dua masukan bagus yang sempat aku catat dari beliau:

  1. Agar hidup kita penuh semangat dalam menghadapi satu tahun kedepan, maka kita perlu menetapkan agenda kegiatan satu tahun beserta target pencapaiannya. Aku sepakat banget dengan prinsip ini. Bahkan biasanya di awal tahun hijriyah aku selalu menetapkan satu target besar dalam hidup, dan Alhamdulillah target ini selalu tercapai. Sayangnya, tidak seperti biasa untuk tahun 1430H ini aku belum punya target apapun….(????)
  2. Dalam mensikapi hidup, dapat diterapkan konsep ”90-10”; artinya 90% adalah perbuatan kita dan 10% adalah takdir. Hmm..Betul juga, sepakat. Meskipun cuma 10%, takdir memang sangat menentukan. Namun demikian, Allah maha adil, kita diberi bekal ilmu dan akal untuk mengupayakan 90% sisanya.

Alhamdulillah, hari ini dapat ilmu baru lagi. InsyaAllah bisa jadi bekal untuk hidup yang lebih baik. Dalam perjalanan akhir, rombongan kami menyempatkan untuk singgah di pantai Trisik. Sempat ada permainan untuk anak2 TPA disana, sejumlah doorprize dibagikan [lagi2 “Anda Belum Beruntung”], yah… sekedar refreshing.

Smoga di tahun 1430H nanti smakin banyak kebaikan dalam hidup kami. Amin…

Pendadaran yang Mengasyikkan

Seminggu ini aku berkesempatan untuk menguji Tugas Akhir 2 mahasiswa yang bukan dari Jurusan Teknik Informatika. Seorang mahasiswa S2 Fakultas Kedokteran UGM (saya sebagai pembimbing), dan seorang lagi mahasiswa S2 Magister Teknik Industri UII (saya hanya sebagai penguji). Ujian pendadaran kali ini berbeda dengan ujian2 TA yang selama ini sering saya ikuti. Ujian berjalan begitu khikmat, khusyuk, santai, terkadang diselingi humor ringan, tapi cukup bermakna (baik bagi kami tim penguji maupun bagi yang sedang duduk di ‘kursi panas’). Mengasyikkan dan membawa banyak manfaat, begitulah kesan yang terekam dalam ingatan saya. Nada bicara tim penguji yang cukup terkendali ternyata berdampak pada mahasiswa. Mereka lebih bisa mengeksplorasikan segala kemampuaannya dan meminimalisir rasa grogi. Kami sebagai tim penguji juga menjadi nyaman ketika mendengar penjelasan dari mahasiswa maupun masukan dari penguji lain. Ya… kami justru malah seperti berdiskusi hangat seputar tema penelitian, jauh dari kesan suasana peradilan antara hakim dan tersangka (lho…!!!). Sayapun juga banyak “mencuri” ilmu dari penguji lain dan pengetahuan dari mahasiswa yang selama ini belum ada dalam basis pengetahuan saya. Sebaliknya, mereka pun bisa menerima masukan saya dengan pikiran yang relatif jernih.

Aku memang telah lama merindukan suasana pendadaran yang seperti ini: nyaman, saling mengisi, fokus dengan tema, dan saling menghargai pendapat. Menurutku, ujian pendadaran juga merupakan salah satu ajang “menuntut ilmu” bagi kita semua (mahasiswa & penguji). Tak ada manusia yang lebih sempurna di antara yang lainnya…. Terimakasih ya Robbi, Engkau telah beri aku penyegaran & pencerahan yang sebenarnya dalam proses pembelajaran hidup … Alhamdulillah.

Masih dengan Lawu Resort

Lawu Resort, bumi perkemahan yang tentunya tidak asing bagi saya (dan sebagian besar mahasiswa saya). Minggu, 23 November lalu, kami (aku dan tiga dosen yunior) menyempatkan diri untuk singgah ke sana. Bagiku ini adalah kesempatan yang ke-DELAPAN kali. Setiap tahun mahasiswa mengadakan acara di sini. Mereka memberi judul dengan WEB (Wahana Edukasi dan outBound) [banyak yang bilang, ini singkatan “maksa” banget…!!!!]. Meskipun aku bukan mahasiswa, namun aku termasuk salah satu “penggemar” agenda ini. Alasannya? 1. Refreshing di daerah pegunungan adalah salah satu hobiku (bisa menambah rasa syukur pada Illahi sekaligus menghirup udara segar); 2. Ketemu mahasiswa-mahasiswa “kuno”, banyak kenangan terlukis bersama mereka di masa lalu, suka & duka tentunya [haru biru banget!!!]; 3. Adalah sebuah kebahagiaan, ketika melihat anak-anak (para mahasiswa) berbahagia di saat itu [ibu-ibu banget!!!].

Kesempatan ke Lawu Resort kali ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini aku berkesempatan untuk ikut naik2 ke bukit. Maklum, pengawal yang aku ajak saat itu adalah dosen2 junior yang siap pantang lelah & tulus ikhlas bersama menaiki bukit. Tak lupa, jepret – jepret – jepret beberapa gambar sempat diabadikan. Sejauh mata memandang, daerah sekitar Lawu Resort sangat indah, sungguh indah, subhanallah…. Komplit, mulai hamparan sawah lengkap dengan teraseringnya, bukit hijau, sungai yang mengalir dengan air yang masih cukup jernih, para petani yang berbahagia, dll.

2lawu5lawu

3lawu1lawu

8lawu9lawu

7lawu6lawu

Cerita tentang Lawu Resort tak akan ada habisnya. Keindahan alam di sana adalah salah satu wujud keagungan Yang Kuasa. InsyaALLAH kalo ada umurku panjang, tahun depan Lawu Resort lagi, untuk yang kesembilan kali. Amin….

Kuliah Kerja Nyata alias KKN

Tiba-tiba teringat pada masa itu…. Ya, masa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Meskipun peristiwa itu telah terjadi 15 tahun silam [15 Oktober – 14 Desember 1993], namun spertinya sulit terhapus dari memori ini. Bagi saya, waktu itu KKN adalah ajang untuk refreshing. Bagaimana tidak, KKN baru aku ambil setelah beberapa bulan dinyatakan lulus ujian pendadaran (lho kok bisa ya….????). Kami diterjunkan di sebuah desa terpencil bernama Kalikayen, kecamatan Ungaran, kabupaten Semarang. Waktu itu Kalikayen begitu istimewa. Untuk singgah di desa itu, dibutuhkan cukup perjuangan, seperti harus melewati pematang-pematang sawah dan menyeberang beberapa sungai. Transportasi darat hanya sampai di desa sebelah, untuk selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki (atau naik motor jika ikhlas motornya rusak…). Namun justru di situlah letak kenikmatan KKN, sesuatu yang belum pernah aku alami sebelumnya. KKN banyak memberikan banyak inspirasi padaku. Pengin hidup di desa, melihat warga memasak pake kayu bakar, pagi hari mendengar ayam berkokok, dll. Alhamdulillah, akhirnya sebagian besar inspirasi itu telah menjadi kenyataan. Hidup Kalikayen….!!!!!

kkn1kkn2

kkn3kkn4

kkn51kkn6

Keladi Bersemi Lagi

Dulu aku sempat hobi koleksi aneka keladi. Ada beberapa jenis, dan semua diperoleh secara gratis (Alhamdulillah ada tetangga yang super baek ngasih tanaman2 berdaun indah ini). Namun, seiring berjalannya waktu dan musim, akhirnya keladi2 ini musnah. Turunnya hujan beberapa hari terakhir ternyata membangunkan tanaman2 indah itu. Meskipun posisinya jadi tak menentu, Alhamdulillah cukup menyemarakkan taman kecilku…..

keladi1keladi2

keladi3keladi6keladi5keladi7keladi41